to my bLog

Me and my blog with little Diary ^_^

jangan lupa maen SUPER MARIO yah sampe level akhir :D












































































































Minggu, 25 Maret 2012

Taman Narmada

| | 0 komentar


a)    Lokasi
Taman Ini Terletak Di Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Daerah Tingkat Ii Lombok Barat. Berjarak Lebih Kurang 12 Km Dari Pusat Kota Mataram, Ibu Kota Propinsi Nusa Tenggara Barat, Terletak Pada Ketinggian Lebih Kurang 127 Meter Diatas Permukaan Laut. Kompleks Taman Ini Berada Di Tepi Jalan Raya Yang Menghubungkan Kota Mataram Dengan Kota-Kota Lain Di Pulau Lombok Bagian Timur. Dari Mataram Lebih Kurang 11 Km.

b)   Ukuran Dan Luas
Secara Garis Besar, Kompleks Taman Narmada Terbagi Menjadi Dua Kelompok Yaitu :
1)    Kelompok Bangunan Yang Bersifat Sacral (Disucikan), Yakni Kelompok Bangunan Yang Ada Di Sebelah Timur, Berupa Kelompok Bangunan Pura (Pura Kelasa) Dan Kelebutan (Tempat Mata Air “Air Awet Muda”).

2)   Kelompok Bangunan Yang Bersifat Profane, Berada Di Bagian Barat Yaitu Bale Mukedas Atau Bale Agung, Bale Terang, Bale Loji, Dan Bale Tajuk Yang Kini Telah Tiada ( Di Sebelah Barat/Atas Telaga Ageng).

Kedua Kelompok Bangunan Itu Menyatu Menjadi Satu Kompleks Taman, Secara Keseluruhan Di Sebut Taman Narmada. Luas Taman Keseluruhan 60.250 Meter Persegi, Sedangkan Luas Bangunan Yang Ada Berjumlah 1.249 Meter Persegi.

c)    Fungsi
Keberadaaan Taman Narmada Sering Dikaitkan Dengan Anak Agung Gde Ngurah Karangasem Dari Dinasti Kerajaan Karangasem Sewaktu Berkuasa Di Lombok. Fungsi Utama Taman Ini Ialah Sebagai Tempat Peristirahatan Dan Pemujaan, Karena Di Dalamnya Terdapat Banguna Pura.

Taman Narmada Juga Di Kenal Dengan Nama “ Istana Musim Kemarau “. Sebab Jika Musim Kemarau Tiba. Istana Raja Yag Disebut “ Pura  Ukir Kawi “ Di Cakranegara Ditinggalkan Oleh Raja Untuk Beristirahat Taman Narmada.

Taman Narmada Termasuk Salah Satu Obyek Benda Cagar Budaya Sebagaimana Dimaksud Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Cagar Budaya. Oleh Karena Itu Pemanfaatannya Hanya Sesuai Dengan Ketentuan-Ketentuan Yang Tercantum Di Dalam Undang-Undang Tersebut. Taman Narmada Pada Masa Sekarang, Bagian Dari  Kelompok Banguna Sacral Tetap Dimanfaatkan Sebagai Sarana Kegiatan Ritual Keagamaan ( Hindhu ), Sedangkan Kelompok Bangunan Profane Atau Bagian Taman Pada Umumnya Dimanfaatkan Sebagai Sarana Rekreasi.

d)   Status
Kompleks Taman Narmada Secara Keseluruhan Merupakan Peninggalan Dari Kerajaan Karang Asem Sasak ( Di Lombok ) Atau Yang Kemudian Berganti Nama Menjadi Cakranegara. Kelompok Banguna Yang Bersifat Profaan, Fungsinya Sebagai “ Taman Raja”. Kelompok Banguna Tersebut Tidak Difungsikan Lagi Bersamaan Dengan Berakhirnya Kekuasaaan Kerajaan Cakranegara 1894, Saat Masuknya Kekuasaan Colonial Belanda. Kelompok Bangunan Ini Dapat Dikategorikan Sebagai “ Dead Monument “, Maksudnya Sudah Tidak Dimanfaatkan Sebagaimana Fungsinya Semula. Kelompok Bangunan Yang Bersifat Sacral, Hingga Kini Masih Digunakan Sebagai Tempat / Sarana Kegiatan Ritual Keagaam ( Hindu ) Oleh Karena Itu Kelompok Bangunan Sacral Ini Tergolong “ Living Monument “ Yang Masih Hidup “ Artinya Masih Dimanfaatkan Sebagaimana Fungsinya Semula.

Di Dalam Kompleks Taman Ini Terdapat Dua Kelompok Bangunan Yang Berbeda Sidatnya Oleh Karena Itu Pengelolaannya Pun Dilakukan Oleh Dua Lembaga, Yaitu :
a)    Bangunan-Banguna Yang Digunakan Sebagai Sarana Kegiatan Ritual Keagamaan ( Hindu ) Di Kelola Oleh Karma Pura
b)   Kelompok Bangunan Yang Bersifat Profan Dimanfaatkan Sebagai Sarana Rekreasi / Objek Wisata  Dan Dikelola Oleh Pemerintah Daerah Tk Ii Kabupaten Lombok Barat.

Karena Taman Narmada Merupakan Peningalan Sejarah Dan Purbakala, Juga Sebagai Benda Cagar Budaya, Maka Hal-Hal Yang Bersifat Kesejahteraan Dan Kepurbakalaan Ditangani Oleh Departemen Penididkan Dan Kebudayaan. Dalam Hal Ini Kantor Wilayah Depdikbud Propinsi Nusa Tenggara Barat.

e)   Latar Belakang Sejarah

Taman Narmada Merupakan Peninggalan Kerajaan Karangasem Sasak (Di Lombok) Atau Cakranegara.Taman Narmada Merupakan Salah Satu Peninggalan “Raja-Raja Bali” Di Lombok.Secara Fisik Termasuk Yang Terbesar Dan Paling Indah.Melihat Kenyataan Ini Dapatlah Diperkirakan Bahwa Pelaksanaan Pembangunn Taman Narmada Memerlukan Biaya Yang Tidak Sedikit Serta Kondisi Waktu Yang Lama.Pembanunan Taman Narmada Hamper Dapat Dipastikan Terjadi Setelah Seluruh Kerajaan Bali Di Lombok Dapat Dipersatukan.
Tim Penyusun Masterplan Pemugaran Taman Narmada (Depdikbud, 1982/1983) Berkesimpulan Bahwa Pembangunan  Taman Narmada Terjadi Sekitar Tahun 1883 Dan Sebelum Tahun 1894, Sebagai Tahun Berakhirnya Kekuasaan Mataram Yang Pada Waktu Itu Berpusat Di Cakranegara. 

Dari Sumber Lisan Diperoleh Keterangan Bahwa Taman Narmada Dibuat Sebagai Tiruan Danau Segara Anak Di Gunung Rinjani.Maksudnya Sebagai Tempat Upacara Pakelem Setiap Tahun Yang Dipimpin Langsung Oleh Raja.
Upacara Pakelem Atau Upacara Meras Danooe Adalah Upacara Yang Dilaksanakan Sekali Setahun Di Danau Segara Anak.Puncak Acara Ialah Membuang Atau Melabuh Benda-Benda Terbuat Dari Emas Berbentuk Ikan, Udang, Kepiting, Dan Penyu Yang Bertuliskan Huruf-Huruf Magis ( “Syllable Magis” ) Ke Dalam Danau.Tujuan Upacara Ini Ialah Memohon Kepada Dewa Agar Melimpahkan Kebahagiaan Dan Kesejahteraan Kepada Rakyat Serta Kekuasaan Raja Yang Sedang Memerintah Kekal.

Ketika Raja Lanjut Usia, Secara Fisik Sudah Tidak Kuat Lagi Memimpin Secara Langsung Upacara “Pakelem” Di Gunung Rinjani, Maka Dibuatlah “Duplikat Telaga Segara Anak” Di Taman Narmada.Kemudian Upacara Meras Danoe Dialihkan Ke Taman Narmada.Namun Demikian Acara Labuhnya Sendiri Tetap Dilaksanakan Di Danau Segara Anak Oleh Pendeta Dan Para Pembantunya.

Nama Narmada Diambil Dari Narmadanadi, Anak Sungai Gangga Yang Sangat Suci Di India. Bagi Umat Hindu, Air Merupakan Suatu Unsur Suci Yang Memberi Kehidupan Kepada Semua Makhluk Di Dunia Ini. Air Yang Memancar Dari Dalam Tanah (Mata Air) Diasosiasikan Dengan Tirta Amerta (Air Keabadian) Yang Memancar Dari Kensi Sweta Kamandalu.


f)    Pemugaran
Secara Berangsur-Angsur Taman Ini Berubah Fungsi Menjadi Tempat Rekreasi Dalam Arti Terbuka Untuk Umum. Sehingga Pemugaran Terhadap Pemugaran Bangunan Itu Tidak Diketahuia Secara Jelas. Bila Kita Bandingkan Peta Situasi Yang Di Buat P De Roo De La Faille Tahun 1899 Dengan Peta Yang Dibuat Departemen Perkerjaan Umum Setelah Masa Kemerdekaan Dengan Peta Sekarang Dapat Dipastikan Bahwa Taman Narmada Mengalami Pemugaran Maupun Perbaikan Sejalan Dengan Fungsi Taman Itu Sendiri.
Sebagai Contoh Pada Tahun 1899 Tidak Ada Pintu Penghubung Dari Halaman Pasarean Ke Kolam Padmawangi Seperti Pada Peta Tahun 50 Maupun Keadaan Sekarang,Dahulu Kita Harus Melewati Halaman Jabalkab Lewat Pintu Timur/Pintu Timur Halaman Beneingh. Di Samping Itu Pada Peta Situasi Tahun 1899 Pintu Masuk Pura,Sesuai Dengna Arah Hadap Kelima Bangunan Pelinggih(Meru) Di Halaman Jeroan. Kemungkinan Besar Gapura Panduraksa (Pintu Masuk)Di Sebelah Barat Dibuat Kemudian. Padmawangi Dengan Telaga Ageng Yang Terdapat Pada Peta Yang Di Buat Tahun 50an,Sekarang Sudah Menjadi Kolam Renang (Kolam Duyung), Tidak Lain Merupakan Perluasaan Dari Pancuran Yang Khusus Untuk Mandi Raja Atau Anak Agung. Pada Peta Situasi Tahun 1899,Di Tempat Itu Tidak Terdapat Kolam Melainkan Bangsal Di Kanan-Kiri Pintu Paduraksa. Hampir Dapat Dipastikan,Perluasan Pancuran Raja Menjadi Kolam Kecil Lengkap Dengan Kamar Ganti Pakaianya Terjadi Setelah Jatuhnya Mataram Ke Tangan Belanda. Dugaan Ini Didasarkan Kepada Intrpretasi Bahwa Jika Raja Akan Menjalankan Upacara Persembahyangan Di Pura,Ia Akan Keluar Dari Kelompok Bangunan Melalui Pintu Timur Di Di Halaman Beneingh. Dari Sini Mnuruni Tangga Menuju “Pelantaran”,Lalu Masuk Ke Pintu Paduraksa Ke Kompleks Bangunan Pancur Raja. Kemudian Keluar Dari Pintu Belakang Menaiki Tangga(Undak-Undak) Menuju Pura.

Berdasarkan Data Yang Ada, Telah Terjadi Beberapakali Pemugaran:
Tahun 1962:
·   Pembangunan Cungkup Sumber Air Kolam Padmawangi(Air Awet Muda).
·  Pemugaran Telaga Ageng/Telaga Seggara Anak
Tahun 1967-1968:
·  Pembongkaran Gapura(Pintu Masuk)Sebelah Utara Yang Menghadap Ke Jalan
    Raya.Kemudian Di Tempat Yang Sama Dibangun Gapura Berbentuk “Candi Bentar”.
·  Merendahkan Tembok Pemisah Antara Halaman Jabalkab Dan Halaman Mukedas,Di
Belakang Bangunan Loji.
·   Pembongkaran Tembok Sisi Barat Halaman Mukedas,Dan Pembangunan Gapura
    Bentar Sebelah Barat Bangunan Loji.
·   Pembongkaran Kolam Kecil Lengkap Dengan Kamar Ganti     Pakaian,Dan Sebuah Pintu
Paduraksa. Di Tempat Yang Sama Kemudian Dibangun Kolam Renang Lengkap Dengan
    Dua Bangunan Ganti Pakaian Dan Sebuah Bangunan Rumah   Makan.
·   Pemasangan (Penambahan) Pot Pancuran Di Tengah Kolam Padmawangi.
Tahun 1969:
·  Memperluas Bale Pawedaan Di Dalam Pura
Tahun 1972-1973:
·  Membongkar Dan Merendahkan Tembok Sebelah Barat Halaman Jabalkab
·  Menjebol Tembok Dan Membuat Pintu Di Sudut Tenggara Halaman Jabalkab.
·  Membangun Cungkup Sumber Air Di Sebelah Timur Pancuran(Sebelah Timur Kolam
  Renang)
Tahun 1976-1977:
·  Pembongkaran Tembok Pemisah Antara Halaman Mukedas Dan Halaman Pasarean
·  Pembongkaran Dinding Ruangan Bangunan Loji Di Halaman Pasarean Di Sertai Dengan
  Pergantian 12 Tiang Utamanya,Lantai Ubin Dan Sebagainya.
·  Pembugaran Bale Terang Berupa Penggantian Kap Dan Pengecatan
·  Pemugaran ”Candi Bentar” Yang Menghadap Ke Barat Di Halaman Pura
Tahun 1978:
·  Pemasanngan Atap Bangunan”Pancuran Siwaq” Di Sebelah Selatan Kolam Renang
  “Duyung”. Fungsinya Tempat Pemandian Laki-Laki
·  Pembongkaran Bale Tanjuk Di Halaman Becingah,Kemudian Membangun Sebuah
  Rumah Tinggal(Rumah Peristirahatan)
·  Pembangunan Rumah Makan(Lembur Kuring) Pada Bagian Sudut Barat Daya Halaman
  Petandakan.
·  Pembangunan “Ruang Diskotik” Di Halaman Pawargaan
Dan Keputusan Akhir Adalah Mengembalikan Kondisi Taman Narmada Sesuai Dengn Aslinya Menurut Keadaan Sekitar Awal Dasawarsa 1970-An. Pemugaran Taman Narmada Oleh Dapertemen Pendidikan Dan Kebudayaan Dimulai Pada Tahun Anggaran 1980/1981 Dengan Dana Proyek Pemugaran Dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Nusa Tenggara Barat Menghabiskan Dana Rp.259.378.010,00.Dilakukan Secara Bertahap, Selesai Pada Tahun 1987/1988. Upacara Peresmian Purna Pugar Dan Penyerahan Kembali Kepada Pemerintah Daerah Tingkat 1 Nusa Tenggara Barat Dilakukan Pada Tanggal 27 Februari 1988. Hadir Pada Waktu Itu Direktur Jendral  Kebudayaan,Drs.Gbph Poeger.



Read more...

Taman Lingsar

| | 0 komentar

a)    Lokasi
Di Desa Lingkar Terdapat Sebuah Taman Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Yang Cukup Terkenal. Di Dalamnya Terdapat Dua Jenis Sarana Kegiatan Ritual Keagamaan Dari Dua Kelompok Masyarakat Dengan Latar Belakang Agama Dan Suku Bangsa Yang Berbeda. Antara Keduanya Menamakan Peningglan Bersejarah Ini Dengan Sebutan Yang Berbeda Menurut Kepentingan Masing-Masing. Oleh Karena Itu Dalam Tulisan Ini Hanya Disebut Nama “ Taman Lingsar “ Saja. Sesuai Dengan Lokasi Keberadaanya.

Taman Ini Terletak Di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Berjarak Kurang Lebih 7,5 Dari Kota Mataram. Prasarana Jalan Menuju Tempat Ini, Baik Dari Kota Mataram Maupun Dari Bandar Udara Selaparang, Berupa Jalan Beraspal Yang Cukup Bagus, Sehingga Mudah Dikjangkau Dengan Segala Jenis Kendaraan.

b)   Ukuran Dan Luas
Taman Di Sekitar Pura Dan Kemaliq Lingsar Ini Pada Mulanya Sangat Luas, Tidak Kurang Dari 40.000 Meter Persegi. Beberapa Bagian Dari Taman Ini Sekarang Telah Berubah Menjadi Lahan Pertanian Dan Kebun, Misalnya Sawah Yang Terletak Di Sebelah Selatan Telaga Ageng. Bagian Sebelah Barat Kolam Kembar, Dan Kebun Manggis Yang Terletak Di Sebelah Timur Kelompok Banguna Pura Dan Kemaliq.

Pembenahan Taman Yang Dilakukan Oleh Dinas Pariwisata Tk.I Nusa Tenggara Barat Dalam Bentuk Pembuatan Gapura Dan Pagar Keliling Kompleks Kolam Kembar Pada Tahun 1993-1995, Praktis Mengubah ( Mengurangi ) Luas Taman, Karena Di Sebelah Barta Kolam Kembar Itu Masih Terdapat Sebuah Kolam Yang Sebenarnya Merupakan Bagian Dari Taman. Tetapi Dengan Dibuatnya Pagar, Kolam Yang Di Sebelah Barat Itu Kini Menjadi Terletak Di Luar Taman Dan Kondisinya Menjadi Semakin Kurang Terawat.

Di Dalam Kompleks Taman Ini Terdapat Dua Kelompok Banguna Sarana Kagiatan Ritual Keagamaan, Yaitu Sebuah Pura Dan Sebuah Kemaliq. Di Halaman Depan Pura Dan Kemaliq Terdapat Beberapa Buah Bangunan Terbuka, Yaitu :
1)    Pada Halaman Ats, Depan Pura Terdapat Dua Buah Bale Jajar Dengan Luas Masing-Masing 56.22 Meter Persegi Dan Satu Buah Bale Bundar, Luasnya 36 Meter Persegi
2)   Pada Halaman Bawah, Disebut Halaman “ Bencingah “, Di Depan Kemaliq Terdapat Dua Buah Sekepat Dengan Luas Masing-Masing 4,84 Meter Persegi, Dan Dua Buah Dapur Yang Luasnya 10,5 Dan 29,7 Meter Persegi.
Kompleks Taman Ini Dapat Dikelompokkan Menjadi Beberapa Bagian Atau Kelompok Bangunan, Yaitu :
1)    Kompleks Kolam Kembar ( Bagian Paling Depan )
( 5.585,40 M2 )
2)   Halaman Taman Bagian Atas ( Di Depan Pura Dan Sekitarnya )
( 9.339,26 M2 )
3)   Halaman “ Bencingah “ ( Bagian Bbawah, Depan Kemaliq ) ( 1.920,00 )
4)   Kelompok Banguna Pura ( Di Dalam Pagar )
1.179,80 )
5)   Kelompok Banguna Kemaliq, Termasuk “ Pesiraman “ ( Di Dalam Pagar ) ( 1.320,00 M2 )
6)   Telaga Ageng ( Kolam Besar, Disebelah Selatan ) ( 6.230,00 M2 )
7)   Pancuran Sembilan ( Tempat Pemandian Laki-Laki ) Dan Sekitarnya ( 1.089,00 )
_________________________________________ +
Jadi Jumlah Keseluruhan Nya = 26.663,34 M2

c)    Fungsi
Telah Dijelaskan Bahwa Di Dalam Kompleks Taman Ini Terdapat Pura Dan Kemaliq. Pura Merupakan Sarana Kegiatan Ritual Bagi Pemeluk Agama Hindhu, Pada Umumnya Dari Masyarakat Suku Bali. Kemaliq Merupakan Sarana Kegiatan Ritual Bagi Penganut Ajaran “ Waktu Telu “, Pada Umumnya Dari Suku Sasak. Kedua Kelompok Taman. Antara Keduanya Dibatasi Oleh Pagar Ttembok. Pada Tembok Pembatas Itu Terdapat Dua Buah Pintu Penghubung. Secara Visual, Dari Luar Tampak Sebagai Satu Kesatuan.

Dalam Perkembangan Selanjutnya, Kemaliq Tidak Hanya Digunakan Sebagai Tempat Pemujaan Bagi Orang-Orang Suku Sasak Saja, Tetapi Banyak Juga Warga Keturunan Cina Yang Berkunjung Kemai. Mereka Pada Umumnya Penganut Agama Budha Dan Kong Fu Tse. Dengan Demikian Kelompok Masyarakat Yang Melakukanpemujaan Di Tempat Ini Menjadi Bertambah. Suatu Bentuk “ Kebhineka Tunggal Ikaan “ Yang Unik.

Dari Penjelasan Tersebut Ditinjau Dari Sudut Cultural Taman Linggsar Memiliki Keunikan Tersendiri, Sehingga Keberadaanya Sangat Menarik Bagi Puhak-Pihak Yang Menangani Bidang Kepariwisataan. Semakin Banyak Pihak Yang Merasa Berkepentingan, Semakin Banyak Pula Pihak Yang Menaruh Perhatian, Sehingga Penanganan Taman Lingsar Menjadi Semakin Kompleks Dan Rumit.
Sebagai Sebuah Objek Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Dengan Cirri Yang Khas Dan Unik, Taman Lingsar Kini Mengemban Berbagai Fungsi Yaitu Sebagai Tempat Kegiatan Ritual Keagamaan, Sarana Rekreasi Fungsi Social Bagi Masyarakat Di Sekitarnya.

d)   Status
Sesuai Dengan Usia Maupun Latar Belakang Keberadaannya, Tidak Diragukan Lagi Bahwa Taman Lingsar Merupakan Objek Benda Cagar Budaya Sebagaimana Dimaksud Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1.

Bangunan Pura Dan Kemaliq Lingsar, Sejak Awal Dibangun Hingga Kini Tetap Digunakan Sebagai Sarana Kegiatan Ritual Keagamaan. Oleh Karena Itu, Status Taman Lingsar Merupakan Benda Agar Budaya Yang Masih Dimanfatkan Sebagaimana Fungsinya Semula ( Living Monument ). Status Kepemilikiannya Ada Pada Karma Pura Lingsar. Karena Kedudukannya Sebagai  Benda Cagar Budaya, Maka Pemeliharaan Dan Pemanfaatannya Di Bawah Pengawasan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

e)   Latar Belakang Sejarah

Di Lingsar Terdapat Dua Buah Bangunan Pura Yang Penting, Yaitu Pura Ulon Dan Pura Gaduh. Pura Ulon Merupakan Bangunan Pura Yang Pertama Di Lingsar, Terletak Di Sebelah Timur Kompleks Taman Lingsar. Pura Gaduh Terletak Di Dalam Kompleks Taman, Masyarakat Umum Mengenalnya Dengan Sebutan Pura Lingsar Saja.

Ditinjau Dari Segi Usia Dan Sejarah Keberadaanya, Pura Di Lingsar Termasuk Bangunan Pura Tertua Di Lombok. Dibangun Pada Masa Awal Kedatangan Orang Bali Di Lombok Dengan Maksud Untuk Menetap. Pada Akhir Abad Ke 17. Latar Belakang Sejarah Keberadaannya Taman Lingsar Tidak Dapat Dipisahkan Dengan Sejarah Taman Mayura Dan Pura Meru Di Cakranegara, Pura Suranadi Dan Taman Narmada.

Tentang Kemaliq Lingsar, Beberapa Sumber Menyebutkan Bahwa Sudah Ada Sejak Orang Bali Belum Datang Di Lombok, Sebagai Tempat Pemujaan Bagi Orang Sasak Penganut “ Waktu Telu “. Tentang Ajaran “ Waktu Telu “ Itu Sendiri Pada Dasarnya Merupakan Perpaduan ( Sinkriteisme ) Antara Berbagai Unsure Ajaran Agama Atau Kepercayaan, Yaitu Hindhu ( Adwanta ), Islam ( Sufisme ) Dan Panteisme. Jadi Animism Dan Mistik Dapat Diterima Secara Suka Rela Oleh Penduduk Lombok ( Suku Sasak ) Pada Waktu Itu.

Agama Hindu Yang Di Bawa Oleh Orang Bali Mengajarkan Bahwa Ajaran Agama Hindhu Tidak Boleh Dipaksakan Kepada Orang Yang Beragama Lain. Yang Boleh Dipaksakan Oleh Raja ( Bali ) Pada Waktu Itu Hanyalah Bahwa Semua Orang Harus Menyampaikan Terima Kasih Kepada Tuhan, Menurut Caranya Masing-Masing. Berdasarkan Prinsip Itu Maka Pembangunan Yang Dilakukan Oleh Raja Anak Agung Made Karangasem Pada Akhir Abad Ke 19 Di Tempat Yang Sekarang Kita Kenal Sebagai Taman Lingsar ialah :
1)    Bangunan pura gaduh untuk pemeluk agama Hindhu – Budha dan
2)   Banguna Kemaliq untuk penganut ajaran Waktu Telu
Kedua bangunan tersebut boleh digunakan kapan saja menurut keperluan masing-masing. Sekali dalam setahun diadakan upacara bersama, yaitu perang topat. Pada hari yang sama mereka melaksanakan kegiatan ritual di tempat masing-maisng ( pura dan kemaliq ) sesuai dengan caranya masing-masing.

Menurut system pemerintahan bali, raja memegang pemerintahan pengadilan, dan agama. Maka pembangnuan pura yang terletak di dalam kompleks taman lingsar itupun ditangani oleh pihak kerajaan. Ketika belanda datang ( berkuasa ), urusan pemerintahan dan pengadilan diambil alih, sedangkan urusan keagamaan tetap dipegang oleha raja.

Dengan latar belakang sejarah yang demikian itulah maka dua buah bangunan sarana kegiatan ritual keagamaan dari dua kelompok masyarakat yang berbeda berada pada satu kompleks. Pengelolaan kompleks taman itu hingga kini berada pada satu instansi, yaitu Krama Pura Lingsar.

Perang topat diselenggaraka pada bulan ke enam menurut perhitungan kalender bali, atau bulan ke tujuh menurut kalender sasak biasanya sekitar bulan November / Desember tarikh masehi. Pada dasarnya, upacara itu dilakukan sebelum menanam padi, tetapi sudah masuk musim penghujan.

Pokok pikiran awal diselenggarakannya upacara perang topat ialah sebagai pengungkapan kegembiraan dan rasa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Dasar pemikirannya adalah untuk mengembalikan hasil tanah ( berupa ketupat ) ke asalnya ( tanah di Lingsar ), hasil itu digunakan sebagai pupuk ( sasak “ bubus lowong “ ) untuk benih padi yang akan di tanam. Upacara ini dihadiri oleh warga subak ancar. Biaya penyelenggaraan upacara pun dari subak.

Orang sasak penganut ajaran “ waktu telu ‘ pada umumnya percaya bahwa di Lingsar itu Raden Mas Sumilir dari kerajaan medayain ( dekat bertais sekarang ), yang kemudian ditandai dan dikunjungi, sebagai tempat meminta kesuburan hujan. Lontar mengenai silsilah raja yang moktah itu dibaca setiap tanggal 12 robi ‘ul awal.

Read more...

Taman Suranadi

| | 0 komentar

a)    Lokasi
Pura suranadi terletak di dusun ( kampong ) suranadi, desa selaparang kecamatan narmada, kabupaten Lombok barat. Berjarak 15 kilometer dari pusat kota mataram, ibu kota propinsi nusa tenggara barat. Terletak pada ketinggian 256 meter di atas permukaan laut.

b)    Ukuran dan Luas
Di Suranadi terdapat tiga buah bangunan pura, masing-masing di beri nama sesuai dengan fungsi sumber air yang ada di dalamnya. Lokasi pura, terkait dengan tempat keberadaan sumber air.Walaupun dari segi rangkaian kegiatan ritual merupakan satu kesatuan, namun secara fisik terkesan terpisah (terpencar).

Sesuai dengan orientasi keberadaanya ketiga bangunan tersebut dapat dijelaskan sbb :

1)    Pura Ulon/Pura Gaduh
Bila lokasi ketiga pura itu ditarik garis lurus, maka pura Uloh/pura Gaduh terletak di ujung timur.Berdasarkan topografinya pura ini yang paling tinggi, berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung pada sisi bagian belakangnya, dan ruas jalan menuju lapangan golf Golong pada bagian depannya.

2)   Pura Pengentas
Terletak beberapa puluh meter dari pura Uloh/Gaduh arah barat daya.Secara fisik, pura ini merupakan yang terkecil dan paling sederhana di antara ketiga pura yang ada di Suranadi.Sisi selatan dan timur berbatasan dengan pagar hotel Suranadi.Di dalamnya terdapat dua sumber air, yaitu “pengentas” dan “toya tabah”.Pagar keliling pura ini relative baru.

3)   Pura Pebersihan
Terletak kurang lebih 300 meter dari pura Ulon/pura Gaduh, arah barat daya.Kini banguna pura ini telah berpagar tembok.Pada sekitar tahun 1976, pagarnya masih berupa pagar darurat, dengan bamboo.Di dalam pagar juga telah dibangun sarana penunjang sebagaimana yang terdapat pada Pura Ulon.Di depan pintu halaman pura terdapat jalan tembus ke utara menuju jalan raya Suranadi.

Ketiga bangunan pura tersebut merupakan satu kompleks bangunan terbuka, di kelilingi pagar tembok, denah berbentuk empat persegi panjang.

c)    Fungsi
Pada ketiga pura yang ada di Suranadi ini terdapat lima sumber air yang di sebut ”petirtan” airnya di anggap ”sakral”, dan dipercaya sebagai syarat kelengkapan dalam menjalankan upacara keagamaan.Baik untuk keperluan upacara yang dilakukan sehari-hari, maupun untuk upacara-upacara lain yang bersifat khusus.

Air dari kelima mata air ini terletak di Pura Suranadi ini dinamakan ”panca tirta” (lima macam mata ait), yaitu :
a)Toya Tabah
b)Pebersihan
c)Pelukatan
d)Tirta
e)Pengentas

tentang kelima sumber air itu, Ida Made Rai ( 60 tahun ), pemangku puro ulon menyampaiakn penjelasan sebagai berikut :
“ air seperti yang ada di pura ini adanya hanya di Lombok. Di tempat lain, di bali misalnya, untuk mencari toya tabah diperlukan persyaratan khusus. Di sini kita dapat memperolehnya dengan cara yang lebih sederhana. Banyaknya orang hindhu dari berbagai tempat di luar pulau Lombok yang datang kemari untuk mengambil air di sini merupakann pembenaran pandangan ini.

Ketenttuan yang harus dipatuhi dalam mengambil air disini ialah bahwa orang yang keadaanya “ masih kotor “ ialah keluarga dari orang yang meninggal ( belum diupacarakan ). Mereka hanya boleh sampai dihalaman luar pura. Untuk mengambil air sebagai syarat kelengkapan upacara, dapat minta bantuan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal.

Di dalam system kepercayaan agama hindu, dikenal dua jenis upacara, yaitu : upacara hidup ( manusia yadnya ) dan upacara mati ( pitra yadnya )

Pada “ manusia yadnya “, cukup menggunakan tiga jenis ( tirta ) saja, yaitu : pebersihan, pelukatan dan tirta. Sedangkan untuk “ pitra yadnya “, kelima jenis air ( panca tirta ) harus digunakan semuanya. Setelah seseorang meninggal dunia, kemudian diupacarakan dengan jalan jasadnya dibakar. Upacara ini disebut “ ngaben “. Setelah seluruh jasadnya terbakar ( menjadi abu ), secara bertahan disiram dengan kelima jenis air itu. Penyiraman pertama dengan “ toya tabah “, kemudian berturut-turut dengan air “ pebersihan, pelikatan, tirta dan pengentas.

Sesuai dengan latar sejarahnya, pura suranadi memiliki arti penting bagi pemeluk agama Hindu Budha secara keseluruhan, tidak hanya bagi mereka yang bertempat tinggal di pulau Lombok saja. Hal ini dapat dilihat dalam pelaksanaan upacara pujawali atau upacara ulang tahun memperingati berdirinya pura ini, yang jatuh pada tanggal lima belas bulan kelima ( purnama sasih kelima ) menurut perhitungan kalender bali. Menurut tarikh masehi, biasanya jatuh pada bulan November, bertepatan dengan bulan purnama. Pada upacara ini, yang datang tidak hanya pemeluk hindhu budha yang ada di Lombok saja, tetapi juga dari bali.

Pelaksanaan kegiatan ritual keagmaan di pura suranadi, secara gari besarnya dapat dikemukakan sebagai berikut :

1)  Di Pura Pebersihan
Pelaku upacara membersihkan diri dengan cara mandi dengan air di sumber air “pebersihan” kemudian bersembahyang di pura yang letaknya di dekat sumber air tersebut.Setelah itu upacara dilanjutkan di Pura Ulon/Gaduh.

2) Di Pura Ulon/Pura Gaduh
Didepan pintu gerbang pura terdapat “air pelukatan” yang digunakan untuk melukat (dipercikkan) kepada siapa saja yang datang atau hendak masuk pura.Bentuk upacara di dalam pura ini ialah bersembahyang.Banyak juga orang datang kemari untuk minta air  ( tirta ) saja.Pura Ulon adalah pura utama di Suranadi.

Pura pengentas hanya sebagai tempat untuk mengambil air untuk upacara “ pitra yadnya “ saja, yaitu “ toya tabah “ dan pengentas. Maka dapat dimengerti bila tidak dibangun sarana penunjang seperti yang ada pada pura yang lain.

Adapun penjelasan lebih rinci dari fungsi Pura Ulon/Pura Gaduh adalah :

a)    Pada sudut barat laut terdapat bangunan terbuka yang disebut “bale” digunakan sebagai tempat beristirahat atau tidur bagi pengunjung yang menginap.
b)   Di sebelah selatan pintu masuk terdapat bangunan yang disebut “Bale Pewedaan” tempat pendeta membaca Weda ketika upacara sedang berlangsung.
c)    Pada bagian tengah halaman terdapat dua buah bangunan terbuka yang menyerupai “berugaq” yang kedua bangunan ini disebut “Bale Banten” yaitu tempat menyiapkan banten atau kelengkapan upacara.
d)   Di sebelah timur Bale Banten terdapat sumber air pelukatan.Disisinya terdapat tempat menaruh sesaji yang di sebut “persimpangan tirta”.
e)   Pada sisi sebelah timur,lantai halaman di buat tinggi, tempat bangunan utama di apit hiasan naga.Di depan naga dibuatkan tempat menaruh sesaji, disebut “plawangan”.
f)    Disebelah kanan halaman pura, agak ke depan, terdapat sumber air tirta dengan persimpangan tirta-nya.
g)   Di sebelah timur sumber air tirta terdapat pohon beringin yang sangat besar dan dibawahnya terdapat bangunan kecil yang disebut “kemaliq” tempat pemujaan bagi orang-orang sasak penganut ajaran Waktu Telu.
h)   Di sudut timur laut terdapat sebuah pura yang disebut Pura Majapahit.Pendirian pura ini dimaksudkan untuk mengenang para leluhur, bahwa asal usul orang Hindu yang ada di sini berasal dari Majapahit.

Adapun fungsi dari Pura Pebersihan:
a)    Pintu gerbang berbentuk “Candi Bentar”.Di depan pintu tidak ada Bale gong.
b)   Di sudut barat laut dan barat daya terdapat “bale” yang digunakan sebagai tempat menginap dan beristirahat.
c)    Di tengah halaman juga terdapat “bale banten” yang ukurannya lebih kecil dibandingkan di Pura Ulon.
d)   Di sudut timur laut terdapat bangunan utama pura tempat bersembahyang.
e)   Di sebelah timur “bale banten” terdapat sumber air “pebersihan”.Tempat membersihkan diri (secara fisik) dengan jalan mandi sebelum bersembahnyang di pura.
f)    Di sebelah selatan pura terdapat sebuah bangunan pemujaan yang disebut kemaliq sama seperti yang ada di Pura Ulon namun ukurannya jauh lebih besar.
g)   Air yang keluar dari sumber air “pebersihan” di salurkan keselatan.Diluar pagar halaman pura dibuat kolam untuk pemandian bagi masyarakat setempat, kebanyakan anak-anak.

d)   Latar Belakang Sejarah

Telah dijelaskan pada bagian ini, bahwa keberadaan Pura Suranadi, terkait dengan adanya sumber-sumber air “tirta” yang sangat penting artinya di dalam pelaksanaan ritual keagamaan ( Hindu ).
Sehubungan dengan hal itu maka latar belakang sejarah Pura Suranadi merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah datangnya orang-orang Bali di Lombok dengan maksud untuk menetap.

Tentang masuknya orang-orang Bali di Lombok ini, Tim Penyusun Masterplan Pemugaran Taman Narmada,Lombok,1983,mengemukakan adanya kemungkinan bahwa orang-orang Bali berada di Lombok sejak abad ke 11.Dugaan ini diperkuat dengan di temukannya prasasti di Pujungan, Tabanan (Bali).Disebutkan juga bahwa kerajaan Gelgel di Bali pada masa pemerintahan tahan Batu Rengggong tidak hanya memerintah di Bali tetapi berhasil memperluas kekuasaannya sampai di Sasak (Lombok),Sumbawa,serta seluruh Blambungan sampai Puger atau Lumajang (Jawa Timur).

Setelah Gelgel mulai lemah terjadi pergolakan dan kedudukan Gelgel digantikan oleh Klungkung.Selanjutnya kedudukan Klungkung digantikan oleh Karangasem dan pada saat inilah secara berangsur-angsur Lombok ditempatkan dibawah kekuasaan kerajaan Karangasem di Bali.Sejak saat itulah dimulai gelombang perpindahan orang-orang Bali ke Lombok.

Pada awal kedatangannya orang-orang Bali di Lombok ikut serta seorang “Pendeta” atau “Pedende/sulinggih” yakni orang-orang yang sudah menduduki derajat kesucian menurut agama hindu.Pura Suranadi dibangun pada waktu itu oleh Pendeta Sakti Bau Rawuh, ada juga yang menyebutnya Danghyang Niratha.Beliau di Lombok hanya sebentar untuk menjaga agar jangan sampai umat hindu yang ditinggalkan itu tidak dapat melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan, beliau “membuat” lima macam “air suci” (panca tirta).Setelah berkeliling mencari di tempat yang kini bernama Suranadi itu terdapat lima mata air dan langsung diberikan “puja mantera” sehingga air yang keluar dari mata air itu dipandang sebagai air suci, bersifat sacral.

Menurut versi lain, Suranadi “dibuat” atas inisiatif raja Pagesangan bernama Anak Agung Nyoman Karang pada tahun 1624 Saka atau 1720 M.Beliau memanggil seorang pendeta dari Bali bernama Pedande Sakti Abah, cucu Pendeta Dwi Jendra, untuk melaksanakan “panca yadnya” yaitu lima macam pengorbanan menurut ajaran agama Hindu.Untuk itu Pedande Sakti Abah memilih tempat yang kemudian disebut Suranadi.

Secara etimologis, Suranadi berasal dari kata “sura” (dewa) dan “nadi” (sungai).Dalam kamus bahasa jawa kuno disebutkan bahwa Suranadi juga berarti “Kahyangan”, tempat para dewa bersemayam.Sampai dengan sekitar tahun 1930, keadaan di sekitar Pura Suranadi masih merupakan hutan belantara.Atas prakarsa dua orang punggawa saat itu.Adapun biaya dikeluarkan oleh “Pura Fonds”.Tempat pemujaan di sebelah utara (Ulon) dan pemujaan di sebelah selatan adalah hasil prakarsa dari kedua punggawa tersebut.

Pada waktu yang bersamaan dengan saat usaha itu berjalan seorang employer pada Nederlands Indische Bank bernama L.Frantzman mendirikan sebuah rumah semi permanen di dataran atas sebelah selatan Pura Ulon/Gaduh.Kemudian bangunan itu diambil alih oleh pemerintah dari pemiliknya untuk dijadikan pesanggrahan yang statusnya menjadi milik daerah itu.

Bangunan pesanggrahan inilah yang dalam perkembangan selanjutnya sekitar tahun 1932 s.d datangnya tentara jepang (1942), digunakan sebagai tempat peristirahatan dan tempat menginap tamu-tamu Belanda.Kini Bangunan itu telah berkembang menjadi sebuah hotel yaitu Hotel dan Restoran “Suranadi”.

e)   Status

Ditinjau dari usianya, maupun latar belakang sejarah keberadaanya, ketiga pura yang ada di suranadi ini termasuk benda cagar budaya sebagaimana dimaksud undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya.
 Karena sejak awal dibangunnya sampai dengan saat sekarang ini secara berkesinambungan digunakan sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan, pura suranadi digolongkan sebagai “ living monument “

Artinya monument yang masih difungsikan sebagaimana fungsinya semula. Status pemilikan maupun pengelolaannya tetap ada pada masyarakat pemakainya. Namun hal-hal yang terkait dengan pemeliharaan, perawatan, mapun pemanfaatannya diatur dalam undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya dan peraturan pemerintah nomor 10 tahun 1993 tentang pelaksanaan undang-undang nomor 5 tahun 1992.

Read more...

Pura Meru cakranegara

| | 0 komentar



1.   Lokasi
Terletak di wilayah kelurahan cakranegara timur, kecamatan cakranegara, kotamadya mataram. Letaknya bersebrangan jalan dengan kompleks taman mayura, karena antara keduanya merupakan kesatuan di dalam konsepsi tata letak pusat pemerintahan kerajaan cakranegara pada waktu itu. Pura meru terletak di sebelah selatan jalan, sedangkan taman mayura di sebelah utara jalan. Antara keduanya mempunyai keterkaitan fungsi serta hubungan historis.

2.  Ukuran da luas
a. Halaman Jero Pura/Jeroan, disebut Utama Mandala
Berukuran 42,50 m x 42,50 m, di dalamnya terletak bangunan inti pura, berupa bangunan-bangunan yang bersifat sakral dalam bentuk meru. Bangunan-bangunan lainnya berbentuk padmasari, bale (balai) dan sanggar-sanggar lainnya sebanyak 29 buah. Tiga buah bangunan berbentuk meru berderet utara-selatan. Yang terbesar dan tertinggi berada ditengah, beratap ijuk, dan bersusun sebelas.
Tinggi bangunan 18,26 m, ukuran dasar 5 m x 5 m. Kedua bangunan meru yang berada di sampingnya sama besar, beratap genting, bersusun sembilan. Tinggi bangunan 15 m, ukuran dasar 4,3 m x 4,3 m.

b. Halaman Jaba Tengah / Madya Mandala
Berukuran 42,50 m x 42,50 m. Disebelah timur, di kanan kiri Kori Agung terdapat dua buah bangunan berbentuk panggungan yang disebut Bale Gong. Bentuk dan ukuran keduanya sama, ditempatkan secara simetris. Luas masing-masing 47,04 meter persegi, beratap seng, tinggi lebih kurang 4 m.



c.  Halaman Jaba Pesan dan Nista Mandala
Pada dinding sebelah utara terdapat sebuah pintu masuk yang sering di gunakan oleh pengunjung.

d.  Halaman Jabaan
Halaman ini terletak di bagian paling luar (ujung barat). Pintu utama masuk pura terletak disisi utara bagian ini, berbentuk gapura “Candi Bentar”.
Halaman jabaan ini berukuran panjang 70 m, dan lebar 42,50 m.
Disudut barat laut halaman ini terdapat sebuah bangunan kecil dengan lantai yang ditinggikan, tempat “kulkul” (kentongan), disebut “Bale Kulkul”. Kul-kul berfungsi untuk memanggil orang untuk berkumpul.

3.  Fungsi
Pura Meru berfungsi sebagai tempat persembahyangan bagi pemeluk agama Hindu Dharma. Disamping sebagai sarana kegiatan ritual keagamaan, bila kita kaji latarbelakang dibangunnya pura ini secara politis berfungsi sebagai sarana pemersatu bagi orang-orang bali yang ada di lombok, terutama dalam hal menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
Sekali dalam setahun di Pura Meru ini akan diadakan acara pujawali atau usadha, yaitu upacara besar pada bulan purnama bulan ke-4 menurut perhitungan kalender Bali. Saat itu sebanyak 29 kampung meramaikan upacara dan membawa alat dari pura pemaksanya masing-masing, datang di pura meru melakukan upacara pujawali dan menghias sanggar masing-masing. Upacara pujawali dimulai pada sekitar pukul 16.00. pagi harinya, kira-kira pukul 10 semua alat upacara pikulnya ( disebut jempana ) harus dibersihkan secara simbolis dengan upacara, hal ini disebut nyuciang atau memelasti. Upacara pembersihan ini dilakukan di pancuran air yang terletak di pura kelepug. Taman mayura. Di sini tampak jelas keterkaitan fungsi antara pura meru dengan taman mayura. Pada sore harinya barulah diadakan upacara pujawali yang secara keseluruhan waktu tiga hari maka segala alat sanggah itu dibawa ke kampung, ke pemaksan masing-masing.

4.  Status
Ditinjau dari segi usia maupun latar belakang keberadaannya, pura meru di cakranegara ini merupakan “ benda cagar budaya “ sebagaimana dimaksud dalam undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya, pasal 1, ayat 1, karena disamping factor usianya diatas 50 tahun juga memiliki arti penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Sebagaimana layaknya “ benda cagar budaya “yang masih difungsikan oleh masyarakat pendukungnya, pemilikan dan pemanfaatannya ( dalam arti sesuai dengan fungsinya semula ) ada pada kelompok masyarakat itu sendiri. Pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan dan kebudayaan hanya memberikan bantuan teknis tentang perawatan dan pemeliharaan terhadap bangunan dan lingkungan, serta upaya-upaya yang bersifat perlindungan dalam rangka pelestariannya.

5.  Latar belakang sejarah
Menjelang akhir abad ke-17, kerajaan yang paling terkemuka di Lombok ialah Pejanggik di Lombok Tengah, dan Selaparang di Lombok Timur. Kedua kerajaan itu semula berhubungan erat karena pertalian keluarga. Namun, dalam perjalanan waktu, konflik antar keduanya pun tak dapat terhindarkan akibatnya terjadilah perpecahan. Dalam situasi yang demikian, terbukalah peluang munculnya pihak ketiga.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerajaan Gelgel ( Bali ) telah beberapa kali berupaya melebarkan sayapnya ke Lombok namun gagal, sampai pada akhirnya Gelgel di gantikan oleh Karangasem.

Ketika terjadi konflik di antara para bangsawan Sasak ( Lombok ), patih kerajaan Pejanggik yang bernama Arya Banjar Getas pergi Karangasem untuk meminta bantuan.Kesempatan inipun tidak disia-siakan oleh Karangasem.Peperangan demi peperangan pun berlangsung hingga pada akhirnya Kerajaan Pejanggik,Selaparang, dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya dapt ditaklukkan oleh karangasem.Wilayah Lombok pun terbagi menjadi 2, yaitu bagian barat milik karangasem sedangkan bagian timur milik Banjar Getas. Dan beberapa kerajaan kecil, seperti Singasari,Mataram,Pagesangan,Pagutan,dan Sengkongo.

Kerajaan-kerajaan tersebut bergabung berdasarkan asas kekeluargaan untuk mencapai kemakmuran dan kepentingan bersama.Untuk memperkuat persatuan ini raja Singasari mendirikan Pura Meru di Singasari pada tahun 1744. Di antara kerajaan-kerajaan kecil itu Singasari menjadi wakil Karangasem(Bali) di Lombok. Oleh karena itu singasari juga dinamakan Karangasem Sasak. Karena menjadi perebutan pengaruh dan masing-masing berlomba untuk menjadi “ yang ter….” di pulau Lombok. Perang saudara pun tak dapat dihindarkan dan perang berakhir pada tahun 1893 dengan Mataram sebagai pemenangnya pada tahun 1839.

Read more...

Visitors

search

Labels

Pages

About Me

Foto Saya
ulvav
just a simple girl
Lihat profil lengkapku

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
 
 

vha ulva diary | Diseñado por: Compartidísimo
Con imágenes de: Scrappingmar©

 
top